Wednesday, August 6, 2014

KHUTBAH JUMAT PUASA RAMADHAN

KHUTBAH JUMAT AWAL PUASA



Maasyirol Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Hari ini kita sudah memasuki hari ke 25 bulan Syakban 1434 H. Yang berarti kurang lebih 4 atau 5 hari lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan. Pada kesempatan khutbah jumat ini kami sampaikan tentang Penentuan Tgl 1 Ramadhan untuk penentuan awal kita memasuki puasa dan 1 Syawal untuk hari raya Idhul Fitri karena sering terjadi perbedaan antara penentuan yang dilakukan oleh organisasi Islam Muhamadiyah dan Organisasi Islam Nahdatul Ummah, bahkan tahun inipun berpotensi untuk terjadi perbedaan tersebut, karena jauh hari Muhamadiyah sudah menentapkan 1 Ramadhan pada hari selasa tanggal 9 Juli 2013, sementara Organisasi Islam Nahdatul Ummah sampai dengan saat ini belum menentukan tanggal 1 Ramadhan 1434 H. Hal ini disebabkan karena masing-masing memiliki cara yang berbeda dalam menentukan Penanggalan kalender Hijriah. 
Maasyirol Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Penentuan masuknya 1 Ramadhan untuk memulai puasa ataupun 1 syawal untuk Idhul Fitri dilakukan dengan beberapa cara :
1.     Penentuan dengan Metode Hisab (Perhitungan Atronomi/Ilmu Falak
Artinya awal Ramadhan dan awal Syawal ditetapkan berdasarkan perhitungan/hisab, kalau berdasarkan hasil perhitungan bahwa posisi hilal sudah berada di atas ufuk berapa pun derajat tingginya tanpa perlu dilihat dengan mata kepala maka dianggap sudah masuk tanggal 1 Ramadhan. Inilah yang digunakan oleh Organisasi Islam Muhamadiyah yakni dengan metode Hisab.
2.     Penetapan dengan Metode Hisab melalui pendekatan imkanur rukyat.
Penetapan awal ramadhan dan awal syawal juga didasarkan atas hasil perhitungan/hisab tetapi apabila posisi bulan sudah mencapai ketinggian tertentu di atas upuk (minimal 2 derajat di atas ufuk ) barulah ditetapkan sebagai awal ramadhan tetapi apabila posisi hilal kurang dari dua derajat tidak imkan dirukyat maka tidak bisa ditetapkan sebagai awal Ramadhan dan awal Syawal, sehingga awal ramadhan dan awal Syawal ditetapkan pada hari berikutnya.
3.     Penetapan dengan Metode Rukyat bil Fi’li
Artinya awal ramadhan dan awal Syawal harus tetap didasarkan pada melihat bulan sabit. Sedangkan Hisab hanya berfungsi sebagai pemandu dalam melakukan rukyat bil fi’li agar rukyat yang dilakukan menjadi efektif.  Iilah yang digunakan oleh Organisasi Islam Nahdatul Ummah.


Maasyirol Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Pendapat-pendapat penentuan awal ramadhan dan awal syawal tersebut didasarkan pada penafsiaran beberapa ayat Alquran dan Hadis.
Pada Metode Hisab Dalil yang digunakan antara lain Surat Yunus ayat 5 :
uqèd Ï%©!$# Ÿ@yèy_ š[ôJ¤±9$# [ä!$uÅÊ tyJs)ø9$#ur #YqçR ¼çnu£s%ur tAÎ$oYtB (#qßJn=÷ètFÏ9 yŠytã tûüÏZÅb¡9$# z>$|¡Åsø9$#ur 4 $tB t,n=y{ ª!$# šÏ9ºsŒ žwÎ) Èd,ysø9$$Î/ 4 ã@Å_ÁxÿムÏM»tƒFy$# 5Qöqs)Ï9 tbqßJn=ôètƒ ÇÎÈ  
“ Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.
Kemudian didalam surat Arrahman ayat 5 Allah SWT berfirman :
ß§ôJ¤±9$# ãyJs)ø9$#ur 5b$t7ó¡çt¿2 ÇÎÈ  
5. matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.
Ayat di atas menjelaskan  bahwa Allah SWT. telah menetapkan manjilah-manjilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan supaya kita mengetahui waktu (bulan) dan tahun sedangkan matahari agar kita mengetahui waktu (hari) dan jam. Secara tidak langsung ayat di atas juga mengandung pelajaran disyariatkannya mempelajari ilmu falak (astronomi) atau ilmu hisab untuk mengetahui waktu-waktu shalat, puasa, haji dan lainnya yang bermanfa’at bagi kaum Muslimin.
Kemudian didalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari
Rasulallah Saw bersabda Kita adalah umat buta huruf, tidak pandai menulis dan tidak pandai berhitung, sebulan itu adalah sekian dan sekian (maksudnya kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari) (HR. Al Bukhari)
Dari hadits diatas dipahami bahwa Rasulallah dan para shahabat tidak mempergunakan hisab sebagai dasar untuk memulai dan mengakhiri puasa, karena pada waktu itu ilmu hisab belum berkembang, orang – orang Arab masih dalam keadaan buta huruf, sehingga cara yang paling mudah dilakukan waktu itu dengan melihat bulan.
Namun saat ini karena ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dan maju, untuk mengetahui waktu-waktu dan fenomena luar angkasa baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi dapat diperkirakan secara tepat dan mudah, sehingga dengan didukung peralatan yang canggih, hisablah yang paling akurat untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan.
Itulah dalil dan hadis yang digunakan oleh yang menentukan dengan cara Hisab
Sedangkan Dalil Yang Digunakan Oleh Ahli Rukyat, antara lain menggunakan hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim :




Rasulallah Saw bersabda “Berpuasalah dengan melihat bulan sebagai tanda tanggal 1 Ramadhan dan berbuka (berhari rayalah) dengan melihat bulan tanggal satu syawal.Namun apabila (hilal) terhalang (awan) hingga kalian tidak dapat melihatnya, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (HR. al-Bukhari)
Kedua


Janganlah kamu berpuasa sehigga kamu meliha bulan (tanggal 1 Ramadhan) dan Jangan kamu berbuka sehingga kamu melihat bulan (Tanggal satu Syawal).  Bila langit berawan sehingga kamu tidak bisa melihatnya maka perkirakanlah sendiri (hendaknya dilengkapkan menjadi tiga puluh hari).
Dengan demikian, bahwa awal atau akhir Ramadhan harus ditetapkan berdasarkan hasil rukyat bil fi’li atau dengan cara istikmal/menyempurnakan bila hilal tidak dapat dilihat oleh mata kepala, karena syara’ hanya mengajukan dua cara tersebut. Ahli Rukyat berpendapat bahwa penetapan awal atau akhir Ramadhan dengan hisab tidak pernah dilakukan oleh Rasulallah dan para shahabatnya, padahal sebelum Rasullah lahir, di Negeri Arab telah berkembang dan telah terdapat tempat yang dipakai untuk mengajar ilmu hisab. Bahkan menurut fakta sejarah pada tahun 500 SM Phitagoras telah membangun suatu pendidikan khusus dalam ilmu hisab, dan 200 tahun kemudian Bathlimus juga mengembangkan ilmu hisab di lembaga pendidikannya Al-Iskandariyah.
Adapun surat Yunus ayat 5 dan surat Arrahman ayat 5 yang dijadikan dalil oleh ahli hisab tidaklah tepat untuk menghapus sistem rukyat dengan sistem hisab, karena ayat di atas tidak ada sangkut pautnya dengan hal memulai dan mengakhiri puasa. Itulah pendapat yang menggunakan Rukyat (Kenampakan bulan).
Oleh karena menyikapi hal tersebut sikap kita adalah mari kita jaga perbedaan pendapat tersebut dengan tidak saling menyalahkan.  Bagi yang menggunakan hisab seperti Muhamadiyah hendaknya kita jangan menyalahkan karena mereka memiliki dasar dan keyakinan, demikian juga yang menggunakan hisab sekaligus Rukyat (melihat bulan) termasuk kita mengikuti anjuran Pemerintah melalui Tim .....yang diketua Menetri Agama mari kita yakini dengan tanpa menyalahkan yang lain.  Wallahuaklamu..
 Maasyirol Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Terlepas dari itu semua dalam rangka memasuki bulan suci ramadhan ini, marilah kita persiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya dan hendaklah didalam diri kita ada tekad bahwa puasa kita pada tahun ini akan lebih baik daripada puasa tahun-tahun sebelumnya, untuk itu beberapa hal yang perlu kita persiapkan :
1.     Persiapan Ilmu; memasuki bulan suci ramadhan mari kita buka kembali Fiqhusyiam, mulai dari mengkaji rukun-rukun puasa, sunat puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang menghapus pahala puasa, yang memakruhkan puasa serta hal-hal lain yang berkaitan dengan puasa dan bulan suci ramadhan.
2.     Kesiapan Fisik. Kesiapan fisik mutlak diperlukan karena ibadah puasa tidak dapat kita laksanakan dengan sempurna bila dalam keadaan sakit, tetapi kesiapan fisik yang sehat, segar bugar akan membantu kemudahan dan kelancaran dalam melaksanakan berbagai aktifitas ibadah didalam bulan suci ramadhan.
3.     Kesiapan Hati. Rasulullah SAW. Sejak bulan rajab sudah menyiapkan diri menyambut bulan Ramadhan dengan doa “ Allahummabariklene fi Rojabe Wasyakban Wabaligne Romadhan” Ya Allah berkahilah kami didalam bulan Rajab dan Syakban (pada segala hal baik umur, ilmu rezeki dan lainnya) dan sampaikanlah umur kami sampai bulan suci ramadhan. 
Doa tersebut mengandung maksud agar umat islam bersiap diri menyambut kedatangan Ramadhan dengan penuh iman serta mengharap keridhoan dan magfirohnya.  Dan itu akan terwujud bila hati kita menerima kehadiran Ramadhan dengan senang hati dan merasa bahagia atas kehadirannya di tengah-tengah kita, bahkan merasa nikmat dalam kehausan dan kelaparan.
Akhirnya mari kita berdoa kepada Allah agar kita diberikan kekuatan lahir dan bathin dalam melaksanakan ibadah puasa serta ibadah-ibadah lainnya selama bulan suci ramadhan....amin ya robbal alami.    

No comments:

Post a Comment