KHUTBAH JUMAT AWAL PUASA
Maasyirol Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Hari ini kita sudah memasuki
hari ke 25 bulan Syakban 1434 H. Yang berarti kurang lebih 4 atau 5 hari lagi
kita akan memasuki bulan suci Ramadhan. Pada kesempatan khutbah jumat ini kami
sampaikan tentang Penentuan Tgl 1 Ramadhan untuk penentuan awal kita memasuki
puasa dan 1 Syawal untuk hari raya Idhul Fitri karena sering terjadi perbedaan
antara penentuan yang dilakukan oleh organisasi Islam Muhamadiyah dan
Organisasi Islam Nahdatul Ummah, bahkan tahun inipun berpotensi untuk terjadi
perbedaan tersebut, karena jauh hari Muhamadiyah sudah menentapkan 1 Ramadhan
pada hari selasa tanggal 9 Juli 2013, sementara Organisasi Islam Nahdatul Ummah
sampai dengan saat ini belum menentukan tanggal 1 Ramadhan 1434 H. Hal ini
disebabkan karena masing-masing memiliki cara yang berbeda dalam menentukan
Penanggalan kalender Hijriah.
Maasyirol
Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Penentuan masuknya 1
Ramadhan untuk memulai puasa ataupun 1 syawal untuk Idhul Fitri dilakukan
dengan beberapa cara :
1. Penentuan dengan Metode Hisab
(Perhitungan Atronomi/Ilmu Falak
Artinya
awal Ramadhan dan awal Syawal ditetapkan berdasarkan perhitungan/hisab, kalau
berdasarkan hasil perhitungan bahwa posisi hilal sudah berada di atas ufuk
berapa pun derajat tingginya tanpa perlu dilihat dengan mata kepala maka
dianggap sudah masuk tanggal 1 Ramadhan. Inilah yang digunakan oleh Organisasi
Islam Muhamadiyah yakni dengan metode Hisab.
2. Penetapan dengan Metode Hisab melalui
pendekatan imkanur rukyat.
Penetapan awal ramadhan dan awal syawal juga didasarkan
atas hasil perhitungan/hisab tetapi apabila posisi bulan sudah mencapai
ketinggian tertentu di atas upuk (minimal 2 derajat di atas ufuk ) barulah
ditetapkan sebagai awal ramadhan tetapi apabila posisi hilal kurang dari dua
derajat tidak imkan dirukyat maka tidak bisa ditetapkan sebagai awal Ramadhan
dan awal Syawal, sehingga awal ramadhan dan awal Syawal ditetapkan pada hari
berikutnya.
3. Penetapan dengan Metode Rukyat bil
Fi’li
Artinya
awal ramadhan dan awal Syawal harus tetap didasarkan pada melihat bulan sabit.
Sedangkan Hisab hanya berfungsi sebagai pemandu dalam melakukan rukyat bil
fi’li agar rukyat yang dilakukan menjadi efektif. Iilah yang digunakan oleh Organisasi Islam
Nahdatul Ummah.
Maasyirol
Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Pendapat-pendapat
penentuan awal ramadhan dan awal syawal tersebut didasarkan pada penafsiaran
beberapa ayat Alquran dan Hadis.
Pada
Metode Hisab Dalil yang digunakan antara lain Surat Yunus ayat 5 :
uqèd Ï%©!$# @yèy_ [ôJ¤±9$# [ä!$uÅÊ tyJs)ø9$#ur #YqçR ¼çnu£s%ur tAÎ$oYtB (#qßJn=÷ètFÏ9 yytã tûüÏZÅb¡9$# z>$|¡Åsø9$#ur 4
$tB t,n=y{ ª!$# Ï9ºs wÎ) Èd,ysø9$$Î/ 4
ã@Å_Áxÿã ÏM»tFy$# 5Qöqs)Ï9 tbqßJn=ôèt ÇÎÈ
“ Dia-lah
yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya
manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu
mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang
demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya)
kepada orang-orang yang mengetahui”.
Kemudian didalam surat Arrahman ayat 5
Allah SWT berfirman :
ß§ôJ¤±9$# ãyJs)ø9$#ur 5b$t7ó¡çt¿2 ÇÎÈ
5. matahari dan bulan (beredar) menurut
perhitungan.
Ayat
di atas menjelaskan bahwa Allah SWT.
telah menetapkan manjilah-manjilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan supaya
kita mengetahui waktu (bulan) dan tahun sedangkan matahari agar kita mengetahui
waktu (hari) dan jam. Secara tidak langsung ayat di atas juga mengandung pelajaran
disyariatkannya mempelajari ilmu falak (astronomi) atau ilmu hisab untuk
mengetahui waktu-waktu shalat, puasa, haji dan lainnya yang bermanfa’at bagi
kaum Muslimin.
Kemudian
didalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari
Rasulallah
Saw bersabda Kita adalah umat buta huruf, tidak pandai menulis dan tidak pandai
berhitung, sebulan itu adalah sekian dan sekian (maksudnya kadang-kadang 29
hari dan kadang-kadang 30 hari) (HR. Al Bukhari)
Dari
hadits diatas dipahami bahwa Rasulallah dan para shahabat tidak mempergunakan
hisab sebagai dasar untuk memulai dan mengakhiri puasa, karena pada waktu itu
ilmu hisab belum berkembang, orang – orang Arab masih dalam keadaan buta huruf,
sehingga cara yang paling mudah dilakukan waktu itu dengan melihat bulan.
Namun saat ini karena ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dan maju, untuk mengetahui waktu-waktu dan fenomena luar angkasa baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi dapat diperkirakan secara tepat dan mudah, sehingga dengan didukung peralatan yang canggih, hisablah yang paling akurat untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan.
Namun saat ini karena ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dan maju, untuk mengetahui waktu-waktu dan fenomena luar angkasa baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi dapat diperkirakan secara tepat dan mudah, sehingga dengan didukung peralatan yang canggih, hisablah yang paling akurat untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan.
Itulah
dalil dan hadis yang digunakan oleh yang menentukan dengan cara Hisab
Sedangkan
Dalil Yang Digunakan Oleh Ahli Rukyat, antara lain menggunakan hadis shahih
yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim :
Rasulallah Saw bersabda “Berpuasalah dengan melihat bulan sebagai tanda tanggal 1 Ramadhan dan berbuka (berhari rayalah) dengan melihat bulan tanggal satu syawal.Namun apabila (hilal) terhalang (awan) hingga kalian tidak dapat melihatnya, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (HR. al-Bukhari)
Kedua
Janganlah
kamu berpuasa sehigga kamu meliha bulan (tanggal 1 Ramadhan) dan Jangan kamu
berbuka sehingga kamu melihat bulan (Tanggal satu Syawal). Bila langit berawan sehingga kamu tidak bisa
melihatnya maka perkirakanlah sendiri (hendaknya dilengkapkan menjadi tiga
puluh hari).
Dengan
demikian, bahwa awal atau akhir Ramadhan harus ditetapkan berdasarkan hasil
rukyat bil fi’li atau dengan cara istikmal/menyempurnakan bila hilal tidak
dapat dilihat oleh mata kepala, karena syara’ hanya mengajukan dua cara
tersebut. Ahli Rukyat berpendapat bahwa penetapan awal atau akhir Ramadhan
dengan hisab tidak pernah dilakukan oleh Rasulallah dan para shahabatnya,
padahal sebelum Rasullah lahir, di Negeri Arab telah berkembang dan telah
terdapat tempat yang dipakai untuk mengajar ilmu hisab. Bahkan menurut fakta
sejarah pada tahun 500 SM Phitagoras telah membangun suatu pendidikan khusus
dalam ilmu hisab, dan 200 tahun kemudian Bathlimus juga mengembangkan ilmu
hisab di lembaga pendidikannya Al-Iskandariyah.
Adapun
surat Yunus ayat 5 dan surat Arrahman ayat 5 yang dijadikan dalil oleh ahli
hisab tidaklah tepat untuk menghapus sistem rukyat dengan sistem hisab, karena
ayat di atas tidak ada sangkut pautnya dengan hal memulai dan mengakhiri puasa.
Itulah pendapat yang menggunakan Rukyat (Kenampakan bulan).
Oleh
karena menyikapi hal tersebut sikap kita adalah mari kita jaga perbedaan
pendapat tersebut dengan tidak saling menyalahkan. Bagi yang menggunakan hisab seperti
Muhamadiyah hendaknya kita jangan menyalahkan karena mereka memiliki dasar dan
keyakinan, demikian juga yang menggunakan hisab sekaligus Rukyat (melihat bulan)
termasuk kita mengikuti anjuran Pemerintah melalui Tim .....yang diketua
Menetri Agama mari kita yakini dengan tanpa menyalahkan yang lain. Wallahuaklamu..
Maasyirol Muslimin Jamaah Jumat
Rahimakumullah
Terlepas
dari itu semua dalam rangka memasuki bulan suci ramadhan ini, marilah kita
persiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya dan hendaklah didalam diri kita ada
tekad bahwa puasa kita pada tahun ini akan lebih baik daripada puasa
tahun-tahun sebelumnya, untuk itu beberapa hal yang perlu kita persiapkan :
1. Persiapan Ilmu; memasuki bulan suci
ramadhan mari kita buka kembali Fiqhusyiam, mulai dari mengkaji rukun-rukun
puasa, sunat puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang menghapus
pahala puasa, yang memakruhkan puasa serta hal-hal lain yang berkaitan dengan
puasa dan bulan suci ramadhan.
2. Kesiapan Fisik. Kesiapan fisik mutlak
diperlukan karena ibadah puasa tidak dapat kita laksanakan dengan sempurna bila
dalam keadaan sakit, tetapi kesiapan fisik yang sehat, segar bugar akan
membantu kemudahan dan kelancaran dalam melaksanakan berbagai aktifitas ibadah
didalam bulan suci ramadhan.
3. Kesiapan Hati. Rasulullah SAW. Sejak
bulan rajab sudah menyiapkan diri menyambut bulan Ramadhan dengan doa “ Allahummabariklene
fi Rojabe Wasyakban Wabaligne Romadhan” Ya Allah berkahilah kami didalam bulan
Rajab dan Syakban (pada segala hal baik umur, ilmu rezeki dan lainnya) dan
sampaikanlah umur kami sampai bulan suci ramadhan.
Doa
tersebut mengandung maksud agar umat islam bersiap diri menyambut kedatangan
Ramadhan dengan penuh iman serta mengharap keridhoan dan magfirohnya. Dan itu akan terwujud bila hati kita menerima
kehadiran Ramadhan dengan senang hati dan merasa bahagia atas kehadirannya di
tengah-tengah kita, bahkan merasa nikmat dalam kehausan dan kelaparan.
Akhirnya
mari kita berdoa kepada Allah agar kita diberikan kekuatan lahir dan bathin
dalam melaksanakan ibadah puasa serta ibadah-ibadah lainnya selama bulan suci
ramadhan....amin ya robbal alami.
No comments:
Post a Comment